Alumni Universitas Katolik ST Thomas Medan. SU

Alumni Universitas Katolik ST Thomas Medan. SU

Alumni Universitas Katolik ST Thomas Medan. SU

BINTANG ALUMNI UNIKA ST THOMAS MEDAN yaitu IRWANTO RASAD. Irwanto mengaku bisnis properti adalah pekerjaan yang penuh tantangan. Kini ia ditantang untuk mendongkrak nama Pluit Village. Bicara menikmati tantangan bekerja di industri yang tergolong high risk, Irwanto Rasad masuk kategori yang ini. General Manager Pluit Village ini, mengaku bekerja di industri properti yang berisiko cukup besar memberi tantangan tersendiri.

Pasalanya, belum ada jaminan bahwa bisnis ini akan sukses. Tinggal bagaimana kita meramu tantangan tersebut untuk membuatnya menjadi peluang yang menguntungkan. Irwanto Rasad, jebolan Unika St Thomas Medan dan Academy of Art College San Francisco California State University, memulai karirnya sebagai marketing di PT. Bintika Bangunusa Group di Medan, mulai dari tahun 1999 sampai 2001. Selanjutnya ia bergabung ke Ciptatama Group di Batam sebagai marketing executive. Irwanto kemudian mencari tantangan di tempat lain dengan bekerja sebagai Advertising & Promotion Manager di Mega Mall Batam. Langkah berikutnya ia ke Jakarta dan bekeja di PT. Colliers International sebagai Senior Account Manager. “Sebelum bergabung dengan Pluit Village, saya sudah berkiprah selama sembilan tahun di bisnis properti dalam berbagai sektor. Mulai dari sales marketing, operation, promotion dan genaral management,” kata Irwanto.

Mulai berkarir di Lippo Group sejak 2007 lalu, Irwanto langsung dipercaya menempati posisi general manager pada pusat perbelanjaan Pluit Village, Jakarta. Meski pusat perbelanjaan ini sudah beroperasi sejak lama (dulu bernama Mega M Pluit), namun menjawab  kepercayaan tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri. Menurutnya, Pluit Village merupakan salah satu pusat belanja yang di take over Lippo Group. Artinya, nama Pluit Village masih asing di telinga masyarakat Jakarta dan sekitarnya. “Selain merombak total desain bangunan ini, tugas yang tidak kalah beratnya adalah branding, dari Mega Mall diubah menjadi Pluit Village,” katanya. Untuk itu, menurut Irwanto, pihaknya memang harus bekerja keras.

Berbagai cara ditempuh. Mulai promosi, iklan di media cetak maupun elektronik, banner, dan pemasangan umbul-umbul di lokasi strategis pun dilakukan. Tidak hanya itu, Irwanto bersama timnya langsung sosialisasi ke pengendara angkutan, seperti taksi, angkutan kota, bahkan hingga ke tukang ojek. “Sopir taksi, sopir angkutan, maupun tukang ojek, sangat penting dalam hal ini. Karena selama ini mereka itu tahunya hanya Mega M Pluit. Ketika ditanya Pluit Village, mereka bingung. Untuk itu kami perlu mendekati mereka. Kalau perlu akan kami sebarkan stiker,” ujar Irwanto. Sementara itu, diluar bisnis properti, Irwanto juga aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan. Tengok saja, Irwanto yang memiliki filosofi ‘hidup adalah berkarya’ ini pernah aktif dilembaga sosial seperti Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) dan Ikatan profesi seperti Indonesia Marketing Association wilayah Kepulauan Riau

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0